December 14, 2018

Mitos dan Fakta Seputar Kanker Serviks

 

Masyarakat Indonesia pada umumnyamasih memercayai banyak mitos yang keliru soal kanker serviks, dan memiliki pandangan yang negatif terhadap vaksin HPV.

Kanker serviks merupakan penyakit kanker kedua yang banyak dialami wanita setelah kanker payudara.

Menurut National Cervical Cancer Coalition (NCCC). Di seluruh dunia dalam setiap 2 menit seorang wanita meninggal yang disebabkan oleh kanker serviks,
Sedangkan menurut data RSCM di Indonesia, angka kematian wanita yang disebabkan kanker serviks mencapai 26 orang per hari. Ini berarti kanker serviks mengambil setiap nyawa wanit Indonesia dalam waktu 1 jam.
Tingginya angka kanker serviks yang diawalmi oleh wanita di Indonesia disebabkan karena pemahaman masyarakat Indonesia yang masih kurang mengenai kanker serviks dan virus penyebab penyebabnya yaitu virus yang bernama Human Papilloma Virus (HPV). Selain itu masyarakat juga memercayai banyak mitos yang keliru soal kanker serviks, dan memiliki pandangan negatif terhadap vaksin HPV.


mitos dan fakta kanker serviks

salah seorang dokter yang bernama Kristoforus menyatakan bahwa dia telah menemukan banyak pasien yang masih mempercayai mitos mengenai kanker serviks dan vaksin HPV. Berikut adalah beberapa mitos dan fakta kanker serviks.

Mitos: pembalut dapat menyebabkan kanker serviks

Penyebab dari Kanker serviks yaitu virus HPV,  dan bukan karena paparan bahan-bahan kimia atau substansi tertentu. Seseorang akan dapat terinfeksi virus HPV jika tertular oleh orang yang terinfeksi virus tersebut bisa melalui hubungan seksual, menggunakan barang pribadi milik orang lain yang terinfeksi HPV, atau melalui kontak tidak langsung.
Sedangkan pembalut sendiri merupakan barang yang sekali pakai dan langsung dibuang. Oleh karena itu pembalut tidak ada indikasi dapat menyebabkan kanker serviks.


Mitos: jika belum menikah, tidak perlu vaksin HPV
dan masih menurut dokter Kristoforus, menyatakan bahwa virus HPV sebagai penyebab dari kanker serviks tidak hanya menular melalui hubungan seksual saja, namun juga melalui kontak tidak langsung. Seseorang yang menggunakan barang-barang pribadi orang lain yang terinfeksi HPV, juga memiliki kemungkinan dapat tertular. Oleh karena itu, meskipun belum menikah dan belum pernah berhubungan seksual, seorang wanita tetap memiliki resiko terinfeksi virus HPV.

Menurut World Health Organization pada tahun 2014, menyatakan bahwa vaksin HPV bahkan harus diprioritaskan untuk wanita yang belum terpapar HPV, yakni pada usia 9 hingga 13 tahun. Semakin cepat vaksin HPV diberikan, maka semakin tinggi tingkat efisiensi vaksin tersebut, yakni mencapai 99%. Dan Semakin lama vaksin HPV diberikan, maka akan semakin turun juga tingkat efikasi vaksin tersebut.

Virus HPV tidak mati dengan sabun

seorang dokter juga menceritakan bahwa banyak orang mengira infeksi virus HPV dapat dicegah hanya dengan mencuci tangan atau mencuci alat kelamin setelah berhubungan seksual. Hal ini sebenarnya merupakan pandangan yang keliru, karena faktanya virus HPV tidak akan mati meskipun dicuci dengan sabun.

salah satu bahan kimian yang dapat membunuh virus HPV adalah klorin atau pemutih. Namun, tentu sangat tidak mungkin jika anda mencuci badan anda dengan menggunakan bahan klorin. Oleh karena itu, infeksi virus HPV dan kanker serviks sebaiknya dicegah dengan menggunakan vaksin. Jika gejala sudah terlihat maka pasien tersebut harus mendapat penanganan lebih lanjut dari dokter. Dan akan dilakukan pengobatan sesuai dengan stadium kanker yang sudah diderita.

Demikian artikel ini dibuat, semoga bermanfaat. terimakasih

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *